BURUKNYA MUTU SEPAKBOLA INDONESIA

81logo pssiBeberapa waktu yang lalu, pemerintah akhirnya mencabut sanksi pembekuan atas PSSI, yang langsung disambut dengan pencabutan pembekuan dari FIFA. Agak heran juga, kenapa untuk masalah Indonesia ini FIFA dan AFC sangat perhatian dan responnya cepat sekali atas Indonesia. (Horee…) Mungkin karena potensi pasar yang sangat besar di Indonesia, maka penguasa organisasi sepakbola sejagat itu menilai betapa penting dan strategisnya Indonesia untuk menjadi pasar yang sangat penting untuk di maintain.
Sepakbola memang telah menjadi olahraga favorit di negara kita ini. Terlepas dari minimnya prestasi sepakbola kita di kancah internasional, tetap saja pertandingan-pertandingan tingkat nasional seperti ISC (Indonesian Soccer Competition) yang baru dimulai usai pencabutan sanksi ini, selalu dipadati oleh para penonton yang antusias mendukung timnya masing-masing.
Sungguh, suatu kesalahan dan penyesalan yang besar apabila dukungan penonton seperti ini tidak dikelola dan dijadikan aset untuk pengembangan sepakbola itu sendiri. Bayangkan, dengan teknik sepakbola yang ala kadarnya seperti ini saja penonton bisa berduyun-duyun mau datang ke stadion, bagaimana kalau mutunya lebih baik lagi, bisa jadi pemain-pemain dunia akan datang dan bermain untuk klub-klub di Indonesia. Bisa Anda bayangkan, CR7 di Persija Jakarta, Messi di Persib Bandung, ada Gareth Bale di Pusamania, dan sederet pelatih sekelas Jose Mourinho melatih tim-tim di Indonesia. Walahhh.. menghayalnya kejauhan, anyway, tapi itu bukan tidak mungkin. Dengan potensi pasar yang sedemikian besar, bukan tidak mungkin tim-tim peserta akan mempunyai kapital untuk mendatangkan pemain-pemain atau pelatih top dunia seperti nama-nama di atas tadi.

Untuk itu, maka kita harus bisa me-maintain apa yang telah kita punya ini. Dukungan penonton yang fanatik, kesetiaan penonton untuk datang menyaksikan tim kesayangannya bertanding, merchandise, dan lain-lain, ini harus kita kelola agar bisa menjadi industri yang bisa menggairahkan perekonomian secara nasional.

Setiap penonton yang datang ke stadion, tentu menginginkan hiburan, tidak ada yang datang ke stadion karena mengharapkan tawuran, terkecuali memang sebagian kecil manusia-manusia berengsek yang menyamar jadi supporter. Karena supporter sejati adalah penikmat sepakbola, yang datang dan membayar hanya untuk menonton sepakbola yang baik. Tim kesayangannya menang kalah urusan belakangan, tapi permainan bagus adalah kunci awal kepuasan itu.

Pernahkan Anda lihat sepakbola kita, laga kompetisi di negara kita, baik yang lalu maupun yang baru saja bergulir setelah pencabutan sanksi ini? Bagaimana mutunya menurut Anda? Saya yakin Anda akan mengatakan bahwa mutunya sangat standar, bahkan cenderung rendah untuk beberapa tim kelas bawah. Saya rasa in perlu diperbaiki kalau kita tidak ingin sepakbola kita ditinggalkan penontonya. Ingat, betapa sulitnya dulu kita membuat penonton datang ke stadion, sekarang dengan keadaan seperti ini, sebenarnya kita hanya perlu mengelolanya saja.

Saya yakin, dengan mutu yang rendah seperti ini, apalagi dibumbui dengan berbagai adegan kekerasan di lapangan, serta tingkah laku oknum-oknum penonton yang membuat kericuhan dengan menyalakan flare, petasan, dan lain-lain, lama kelamaan sepakbola kita akan ditinggalkan penontonnya lagi, dan kita akan terjerembab dalam krisis sepakbola yang lain.
Karena itu, sebagai pengamat sepakbola lokal, saya sangat berharap agar para pelaku industri ini secara keseluruhan bisa segera sadar bahwa mereka harus berbenah. Mereka adalah pelaku sepakbola profesional, orang datang untuk menonton Anda, dan berhak mendapatkan tontonan pertandingan yang bermutu atas uang dan waktu yang telah mereka bayarkan itu.
Banyak faktor yang menjadikan sepakbola kita bermutu rendah.

Diantaranya :
Mutu dan skill pemain; saya rasa, perlu adanya suatu standarisasi mutu akan pemain yang pantas berlaga di liga kita, termasuk pemain asingnya. Banyak menurut saya pemain asing yang mutunya sangat dibawah standar pemain asing. Entah ada apa dengan sistem perekrutan yang dilakukan. Apakah berbau korupsi, mark up mutu dan harga pemain? atau memang kita baru sanggup menyewa pemain sekaliber mereka. Tidak semua pemain asing mutunya dibawah standar, banyak pemain asing yang bagus dan mewarnai sepakbola Indonesia, yang saya yakin kalau tidak ada mereka bukan tidak mungkin permainan sepakbola kita hanya muter-muter saja di tengah lapangan tanpa mampu mencetak gol.
Mutu pemain lokal pun demikian, banyak yang berkemampuan tinggi, namun lebih banyak lagi pemain yang hanya mengedepankan otot saja tanpa skill yang memadai. Untuk itu tiap tim wajib melakukan pelatihan yang cukup pada para pemainnya untuk bisa menambah skillnya tersebut.
Namun, yang paling penting menurut saya, faktor yang bisa membuat suatu pertandingan itu bermutu atau tidak adalah WASIT.
Benar, wasit memegang peranan yang sangat penting dalam pertandingan, sekaligus sebagai ‘guru’ bagi peningkatan sepakbola itu sendiri.
Sering saya lihat, banyak wasit yang salah dalam mengambil keputusan, banyak pelanggaran-pelanggaran keras tanpa bola, dari belakang yang didiamkan saja oleh wasit. Bahkan saya sempat menduga, mungkin ada seperti deal khusus antara klub dengan wasit agar tidak terlalu tegas, agar juga tidak memberi kartu pada pemain yang telah mengantongi kartu pada pertandingan sebelumnya.
Sebagai referensi, pertandingan antara Madura United Vs Bali United (tanggal 20/06/2016), betapa itu pemain yang namanya R. Fajrin, beberapa kali dengan konyol mengambil kaki musuh dari belakang, tapi wasit yang memimpin sama sekali tidak memberi peringatan keras apalagi kartu kuning, dan banyak lagi hal-hal seperti ini yang terjadi. Kita punya beberapa wasit yang bagus, seperti Oki, Alkatiri, Jimmy Napitupulu, bahkan dulu ada yang fenomenal seperti Purwanto, tapi sepertinya mereka malah dikucilkan dan jarang diberi jatah memimpin. Bahkan wasit Purwanto di akhir kariernya pernah dianggap menerima suap, padahal dia telah memimpin dengan sangat baik. Saya rasa ada seperti pengaturan pemilihan wasit yang kurang pas di sini. Sepertinya tim yang akan bertanding sengaja atau bersepakat untuk memilih wasit yang menurut kedua pihak ‘gampang diatur’, sehingga terjadilah pertadingan dimana bola lebih banyak berhenti daripada permaiannya. Dalam 1 menit bisa terjadi 2 sampai 3 pelanggaran, dan tanpa ketegasan dari wasit, maka pemain akan melakukannya berulang-ulang, dan dengan bersalaman sudah dianggap sportif oleh para komentator katrok di televisi.
Saya rasa, kita harus benahi sistem perwasitan kita, sistem peningkatan mutu wasit, serta independensi wasit. Ini bisnis ratusan milyar, bullshit kalau dibilang tidak ada dana untuk itu, kecuali uangnya mau masuk lebih banyak ke tangan para pengurus, dan hanya menjadikan sepakbola ini tidak lebih dari sirkus murahan yang hanya mengedepankan unsur komersilnya saja berdasar pada fanatisme kultural belaka.
Kesalahan umum wasit kita kebanyakan :
Wasit 2 atau wasit 3 tidak dapat menentukan offside dengan tepat. Sering mereka hanya berpaku pada saat pemain menerima bola, bukan pada saat bola dilepaskan, sehingga banyak kejadian yang seharusnya onside menjadi offside
Wasit kadang membiarkan pemain melakukan tackling-tackling keras dari belakang. Banyak pemain yang bermain sepakbola seperti bermain rugby, bola boleh lewat tapi orang tidak. Pemain menginjak standing foot dari lawan, saat bola berhasil lewat.
Wasit juga sering dengan bodohnya, tidak menunggu pemain yang baru masuk saat pergantian pemain, saat tim tersebut atau musuhnya melakukan tendangan sudut, misalnya. Hal ini sangat standar dan harusnya bisa dipahami oleh wasit-wasit sekelas liga nasional kita.
Jadi menurut saya, perbaikan mutu wasit adalah hal yang sangat mendesak dan sangat mudah untuk dilakukan saat ini. Sehingga nantinya permainan sepakbola akan berjalan dengan bersih, sportif, dan enak ditonton, dan bukan tidak mungkin akan lahir bintang-bintang baru kita, yang bisa bergerak meliuk-liuk di antara lawan, tanpa harus khawatir kakinya patah dihajar musuh.
Wasit pun perlu dievaluasi. Wasit-wasit yang banyak melakukan kesalahan seperti pertandingan yang saya sebutkan di atas, mungkin sebaiknya tidak menjadi wasit sepakbola lagi, lebih tepat jadi wasit adu jangkrik saja, karena sangat tidak bermutu.
Saya yakin banyak orang-orang yang bisa menjadi wasit yang baik di Indonesia ini. Dan kalaupun kita memang belum mampu mempunyai wasit yang benar-benar bisa memimpin pertandingan dengan baik dan cermat, gunakan teknologi. Gunakan siaran televisi sebagai referensi pengambilan keputusan di lapangan. Agak lama, tapi terobosan-terobosan itu perlu di tengah rendahnya mutu-mutu wasit kita saat ini.
Saya yakin dengan pembenahan perwasitan kita, maka sepakbola kita akan cepat membaik. Akan terjadi permainan terbuka yang menarik yang akan memacu tiap tim untuk berlatih dan bermain dengan lebih baik lagi untuk mencapai kemenangan dan prestasi mereka.
Penegakkan peraturan itu penting, karena tanpa perarturan, maka hanya orang-orang curang yang akan menang.

Terima kasih,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s