JALAN TERJAL REFORMASI PERSEPAKBOLAAN INDONESIA

pssi-dibekukan

Akhirnya, tanggal 30 Mei 2015 kemarin, sanksi FIFA jatuh kepada Indonesia, terkait kisruh sepakbola nasional. Sanksi yang “diidam-idamkan” itu ternyata akhirnya sampai juga kepada kita, yang sebenarnya sudah hampir imun mendengar kata sanksi FIFA, karena dari beberapa ancaman yang pernah diterima, tidak ada satupun yang terjadi. Sejak kisruh PSSI era Nurdin Halid, sampai dualisme PSSI dengan KPSI, sanksi itu seperti hanya gertakan sambal FIFA belaka. Namun ternyata, ditengah kisruh yang juga melanda FIFA dengan ditangkapnya beberapa pejabat teras FIFA oleh FBI karena dugaan suap, sanksi itu justru terjadi.

Kalau melihat kronologi jatuhnya sanksi ini, sepertinya tidak ada hal yang membuat terkejut, karena sepertinya kita memang tengah memasuki pusaran badai dan mengharapkan sanksi itu menjadi kenyataan, toh pada saatnya sekarang kita cukup terkejut juga. Betapa banyak jadwal perhelatan sepakbola internasional yang dibatalkan dan agenda kompetisi nasional yang secara langsung menerima imbasnya. Hal ini tentunya membuat kita berpikir ulang, apakah memang sanksi ini adalah sesuatu hal yang kita inginkan dalam upaya pembenahan sepakbola kita di masa depan?

Secara tegas Presiden RI, Bapak Joko Widodo telah menyatakan sikap atas dukungannya terhadap langkah yang diambil Menpora Bapak Imam Nahrowi dalam melakukan pembekuan terhadap PSSI yang berlanjut dengan penghentian kompetisi oleh PSSI, dan sekaligus turunya sanksi FIFA tersebut, sepintas memang mencerminkan keinginan pribadi maupun pemerintahan saat ini agar tata kelola persepakbolaan kita mengalami reformasi. Hal ini didorong oleh semakin redupnya prestasi tim nasional di kancah internasional, dimana kita selama 24 tahun terakhir, tidak pernah sekalipun mendapatkan gelar internasional khususnya di ajang senior. Tidak berlebihan rasanya apabila kita sebagai negara dengan penduduk terbesar ke 4 di dunia, dengan komunitas sepakbola yang demikian besar dan potensial, mengharapkan punya timnas yang disegani, minimal di Asia Tenggara, dan lebih bagus lagi Asia ataupun dunia. Tidak berlebihan apabila ada analogi yang mengatakan betapa kita tidak mampu mencari 11 orang dari 250 juta penduduk Indonesia yang bisa main bola, adalah suatu keanehan. Untuk itu, secara kasat mata kita bisa melihat bahwa sesungguhnya telah terjadi kesalahan dalam pembinaan sehingga perkembangan prestasi sepakbola kita setiap saat menurun, dan bahkan menjadi juara di level Asia Tenggara pun menjadi sesuatu hal yang hampir mustahil. Ada apa ini?

Kompetisi adalah universitasnya sepakbola, dan dari universitas sepakbola itu akan lahirlah pemain-pemain berbakat guna menunjang tim nasional guna berkiprah di kancah internasional, itu adalah idealnya. Kalau kita balik analogi itu, maka timnas yang buruk lahir dari kompetisi yang buruk pula, dan PSSI sebagai penyelenggara kompetisi sesungguhnya memiliki tanggungjawab atas mutu penyelenggaraan kompetisi tersebut. Apabila kita tengok kompetisi yang bergulir di negara kita, saya yakin kita semua sepakat bahwa mutu pertandingan kita sebagian besar di bawah level bagus. Banyak pemain yang skill-nya seadanya, dan seperti pemain amatiran. Hal ini diperburuk dengan kondisi geografis negara kita yang begitu luas, sehingga jadwal kompetisi yang padat menjadikan kompetisi sesuatu yang menguras tenaga dan biaya. Hal ini tentu saja berdampak pada performa klub yang bertanding. Jarak tempuh antar pulau yang berjauhan, masalah transportasi, akomodasi, sangat berbeda dengan negara-negara di Eropa yang kota-kotanya relatif dekat dan bisa dijangkau dengan perjalanan darat. Jadi ini menjadi kendala tersendiri bagi klub-klub yang bertanding. Kelelahan, kejenuhan, serta biaya yang tinggi membuat klub banyak yang tidak efisien, sehingga berdampak ke masalah administrasi dan keuangan termasuk gaji serta bonus para pemain, dan ini sangat mempengaruhi mental bertanding para pemain tersebut tentunya.

Untuk itu, kesuksesan PSSI menjalankan roda kompetisi di tengah kondisi yang sulit ini sebenarnya sudah menjadi prestasi tersendiri, terlepas dari mutu sepakbola yang dipertontonkan.

Sekarang sanksi itu telah jatuh, dan kita harus menghadapinya. Gelombang kekecewaan dari para pelaku industri sepakbola, para pecandu tayangan sepakbola lokal, hingga para pelaku bisnis dari yang kecil, asongan, sampai pengusaha hotel, biro perjalanan, maskapai penerbangan, transportasi dan lain sebagainya merasakan dampak dari keadaan ini, dan tampaknya kita, dan khususnya pemerintah melalui Kemenpora, cukup merasa tergagap karenanya.

Saya sudah mencoba memikirkan apa solusi terbaiknya dalam hal ini, tapi dari berbagai hipotesa yang coba saya renungkan, pengambilalihan PSSI secara sembrono akan berdampak sangat serius dan memakan waktu yang lama untuk kita bisa bangkit kembali. Di era demokrasi terbuka seperti sekarang ini, tidak akan mudah bagi pemerintah sekalipun untuk dapat menyingkirkan para pengurus PSSI, terlepas dari apapun alasannya, kecuali ada masalah hokum yang dapat dibuktikan. Sedangkan, tanpa PSSI, tentu tidak mungkin pemerintah bisa menjalankan perannya guna menghidupkan lagi kompetisi serta persepakbolaan nasional. Bukan tidak bisa, tapi akan sangat memakan waktu dan biaya. Hal ini karena sudah adanya semacam keterikatan batin antara klub dengan para pengurus PSSI, yang mana pengurus PSSI selama ini, suka tidak suka telah berhasil merangkul klub-klub yang ada di Indonesia untuk berkompetisi, serta menggairahkan persepakbolaan nasional, ini mau tidak mau, harus menjadi catatan positif bagi PSSI, dan pencapaian ini bukanlah hal yang mudah. Di saat dulu kompetisi kita terpuruk, sepi penonton dan sponsor, PSSI tetap menjalankan kompetisi dengan cukup baik sampai bisa sesukses sekarang. Hal ini sekali lagi merupakan catatan prestasi dan catatan sejarah bagi PSSI sekaligus klub-klub yang ada, sehingga menjadikan mereka seperti keluarga besar yang kompak.

Sungguh sebuah jalan terjal bagi pemerintah, untuk merubah suatu kekuatan menggurita seperti sekarang ini, terlalu beresiko, dan besar biaya yang harus ditanggung, tanpa ada jaminan kesuksesan yang sama.

Untuk itu, pada kesimpulannya, saya hanya bisa menemukan jalan, bahwa untuk mengatasi masalah ini, mau tidak mau, perdamaian harus dilakukan, dengan tanpa mengalahkan pihak manapun. Karena negosiasi hanya akan berhasil apabila kedua belah pihak, PSSI dan Pemerintah tidak kehilangan muka. Bagaimana caranya, saya ada beberapa pemikirian.

Untuk pihak pemerintah

  1. Cabut pembekuan PSSI

Mau tidak mau, pemerintah harus mencabut pembekuan terhadap PSSI, hal ini guna segera menjalankan kompetisi yang telah berhenti. Pemerintah harus legowo dan menyadari bahwa tidak mungkin pemerintah dapat menggulirkan kompetisi dalam waktu yang segera, dimana faktor kesegeraan ini menjadi hal yang sangat krusial. Kalau tidak segera digulirkan, klub-klub akan banyak yang berguguran, dan animo masyarakat pun bukan tidak mungkin akan hilang lagi. Dalam sepakbola industri hal ini adalah mimpi buruk, karena dengan menghilangnya penonton, sponsor pun sudah pasti akan enggan untuk berinvestasi. Dan apabila hal ini terjadi, sungguh akan memakan waktu lama bagi kita untuk menggairahkan kompetisi lagi.

  1. Guna mencapai prestasi yang diidamkan oleh pemerintah dan rakyat Indonesia, pemerintah melalui Kemenpora bisa membentuk klub khusus yang bermaterikan bakal pemain nasional dalam kompetisi tersebut. Hal ini sudah dilakukan oleh Malaysia dan Singapura, dimana pemain-pemain timnas berkumpul dalam satu tim, dan mengikuti kompetisi reguler. Hal ini akan membuat kita memiliki timnas tanpa mengganggu jadwal kompetisi yang ada, dan secara biaya akan jauh lebih murah dan efektif ketimbang kita harus mengirim timnas untuk berlatih di luar negeri untuk jangka waktu yang panjang. Training center bagi pemain timnas diperlukan, tapi melihat prestasi timnas yang babak belur dengan sistem pembinaan seperti sebelumnya, maka sudah saatnya kita merubah hal tersebut, bukan?
  2. Pemerintah harus memiliki saham dalam kepengurusan PSSI. Hal ini guna mengontrol kinerja PSSI dari dalam tanpa harus merubah PSSI secara keseluruhan. Kalau perlu tim ini melaporkan perkembangan penyehatan lembaga PSSI ini kepada presiden, mengingat begitu tingginya perhatian beliau terhadap sepakbola nasional. Ini sesuatu hal yang baik, dimana tentu saja nantinya Presiden mengetahui apa-apa yang menjadi kendala dan mencari solusi untuk perkembangan persepakbolaan nasional, sampai nantinya bisa berjalan dengan baik.
  3. Pemerintah harus memiliki wakil-wakil yang duduk di pos-pos strategis, seperti komisi perwasitan, komisi banding, dan lainnya yang dianggap perlu, sehingga pemerintah bisa melakukan supervisi secara tepat, dan menangkal apa-apa yang bisa menjadi masalah dalam persepakbolaan ini. Pemerintah pun harus melakukan pengawan dalam pengembangan SDM di bidang kepelatihan, perwasitan, humas, dan lain-lain yang berguna bagi peningkatan mutu dan kemajuan prestasi.
  4. Pemerintah juga harus lebih banyak menyediakan sarana-sarana penunjang olahraga ini, selain olahraga lainnya, guna menghasilkan pemain-pemain yang berkualitas internasional pula. Pembangunan stadion, pusat latihan, mengadakan coaching clinic bersama PSSI, dan tidak hanya untuk pelatih, tapi lebih penting lagi bagi para perangkat pertandingan, yang sepertinya terkadang terabaikan.

Intinya adalah, pemerintah harus melakukan pembenahan dari dalam, bukan dari luar apalagi dengan membuat lembaga tandingan, karena sangat beresiko gagal, berbiaya mahal, dan tidak tepat sasaran.

 

Sedangkan untuk PSSi, yang dapat saya kemukanan adalah :

  1. Mampu mengemban harapan masyarakat akan kerinduan prestasi sepakbola nasional. Budayakan kebiasaan malu dan mundur apabila gagal dalam menghadapi suatu turnamen. Hal ini berlaku bagi pengurus, pelatih , dan seluruh kepengurusan yang ada. Jangan menganggap PSSI sebagai perusahaan pribadi, kalau Anda ingin mempunyai perusahaan pribadi, buat saja klub-klub professional yang berlagai di kompetisi PSSI. Untuk pelatih, yang tidak berprestasi sebaiknya tau diri, dan mau mengukur diri, serta memilik rasa malu, dan mau mundur apabila gagal. Tidak seperti sekarang, pelatih kita kebanyakan agak sok tau, sehingga menganggap melatih itu hal yang mudah. Kalau mudah, bagaimana mungkin pelatih seperti Mourinho dibayar sedemikian mahal hanya untuk melatih. Harusnya mereka tahu, bahwa tidak semua orang mampu menjadi pelatih yang baik. Pelatih tidak hanya melatih cara menendang bola, tapi juga harus memahami psikologis pemain, strategi yang tepat dalam pertandingan, pemilihan pemain di posisi yang tepat, serta kemampuan membaca dan menganalisa permaian tim sendiri maupun lawan, di tengah pertandingan, sehingga ini menjadi masalah yang sangat krusial. Pengalaman menjadi harga mati yang harus dimiliki oleh setiap pelatih yang ditunjuk melatih timnas. Bukan hanya karena faktor kedekatan dan perkongsian. Saya pernah mendengar ada pelatih nasional yang mengomentari pelatih asing yang pernah menangani timnas. Dia bilang, latihannya sama saja, gitu-gitu aja, dan saat dia melatih timnas, hasilnya hancur. Pelatih bukan hanya melatih di arena latihan, tapi menentukan strategi saat pertandingan berlangsung. Dan saya belum melihat ada pelatih kita yang memilik kemampuan level internasional untuk itu, namun kita terlalu pelit untuk menggunakan pelatih asing, dan sekarang kita lihat sendiri hasilnya.

 

  1. Tingkatkan mutu wasit. Hal yang sangat bisa membuat rusak suatu pertandingan adalah wasit. Misalkan lapangan tidak baik, asal kepemimpinan wasit baik, pertandingan akan tetap berlangsung baik. Hal inilah yang sering saya lihat menjadi faktor yang merusak jalanya suatu pertandingan di kompetisi kita saat ini. Sering wasit tidak memberikan hukuman atau peringatan pada tindakan-tindakan yang kasar dan cenderung jahat oleh para pemain terhadap lawannya. Wasit cenderung hanya melihat bola, tanpa melihat aksi yang dilakukan pemain. Belum lagi para hakim garis yang banyak melakukan kesalah dalam mengambil keputusan off side atau pelanggaran lainnya. Sehingga, hakim garis saya lihat tidak lebih dari pada tukang kebut bendera saja, padahal mereka adalah wasit juga yang bisa mengambil keputusan-keputusan penting. Hal ini perlu dibenahi, kalau perlu tim wasit harus independen, seperti dulu. Walau dulu pun ada masalah di bawah DU, tapi dengan pengawasan dari pemerintah dan transparansi hal ini mungkin dapat diatasi dengan membuat komisi disiplin yang berkualitas, yang bisa menjatuhkan sanksi berdasarkan rekaman video, seperti yang dilakukan oleh negara-negara lain.
  2. Selain itu transparansi masalah keuangan dan sponsor. Hal ini adalah salah satu hal yang ngotot dihindari oleh PSSI, karena seperti saya nyatakan di atas, PSSI sudah dianggap seperti perusahaan keluarga, sehingga mungkin keuangannya pun tidak akan akuntable secara public. Mereka hanya berpikir bagaimana supaya kompuetisi tetap berjalan, dan para pengurus pun bisa makan. Sungguh suatu hal yang masuk akal, mengingat bantuan dari pemerintah pun sebelumnya minim. Untuk itu pemerintah mungkin bisa melakukan subsidi secara financial yang memadai, dengan jaminan transparansi secara menyeluruh dalam kepengurusan PSSI. Sekali lagi, PSSI harus dikembalikan sebagai lembaga publik yang bisa dikontrol oleh publik. Bagi yang ingin mencari keuntungan, silakan berada di luar PSSi, buatlah klub dengan bertabur bintang supaya mendapat sponsor yang banyak dan stadion selalu penuh, itu tentu bisa menjadi lahan bagi mereka yang mencari uang disana. Biarakan orang-orang yang cinta sepakbola Indonesia yang mengurus PSSI secara organisasi dan regulasi agar tidak ada kepentingan lain selain sepakbola di sini. PSSI bukan tempat kampanye, karena sepakbola adalah hal seluruh bangsa kita, hak seluruh pembayar pajak yang mimpi melihat timnasnya bisa dibanggakan di mata internasional.
  3. PSSI harus menganggap pemerintah sebagai Pembina yang harus dihormati dan didengar pendapatnya. Ingat, Anda sudah lama tidak berprestasi, jangan merasa sok pintar, biarkan pemerintah membantu Anda, apabila ada hal-hal yang ingin diusulkan demi peningkatan prestasi, maka sampaikanlah hal tersebut, jangan hanya pintar mencari alasan saat kekalahan datang. Anda memiliki segala hal untuk memajukan sepakbola ini, apabila Anda gagal, berarti Anda memang tidak pantas duduk di kursi itu, dan harus legowo mundur. Ingat, PSSI bukan tempat mencari uang, PSSI tempat prestasi, Anda tidak berprestasi artinya Anda harus tahu diri.

Akhir kata, sebelum segalanya menjadi terlambat, saya harap Pemerintah dan PSSI mau membuka diri dan bernegosiasi atas dasar tujuan yang baik. Nyatakan apa yang diinginkan pemerintah dan diinginkan pengurus PSSI secara terbuka, agar masyarakat bisa menilai mana yang baik dan buruk. Saya yakin hal ini belum terlalu terlambat, daripada kita harus memulai segalanya lagi dari awal. Jalannya sangat terjal, dan mendaki. Negara kita sudah terlau banyak mengalami masalah kisruh seperti ini, masih banyak hal yang harus dibenahi, ketimbang urusan bermain bola. Mari kita hemat energy kita, lakukan segala hal yang tepat, agar manfaat dapat kita dapat tanpa harus keluar biaya terlalu besar. Biaya besar akan kita perlukan dalam pembinaan nantinya.

Bravo Sepakbola Indonesia

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s