KISRUH SEPAKBOLA NASIONAL

pictue from merdeka.com

pictue from merdeka.com

Sudah hampir sebulan lamanya, kompetisi ISL yang disebut-sebut sebagai kompetisi kasta tertinggi di Indonesia berhenti bergulir. Walaupun agak miris mendengar ungkapan “kasta tertinggi” tapi itulah yang kerap dituliskan dan disebutkan oleh para awak media. Karena apabila Anda pernah menonton ISL, dan Anda mendengar istilah kasta tertinggi, Anda tentu bisa membayangkan betapa hancurnya kasta yang dibawahnya. Ya, harus diakui, ISL yang dibangga-banggakan itu mutunya tidaklah seheboh namanya. Bahkan banyak dari warga Indonesia yang saya kenal, yang sepertinya sudah antipati dengan persepakbolaan dan kompetisi nasional. Suka atau tidak suka, kita harus akui, mutu kompetisi kita masih sangat rendah, dari segi teknis permainan, maupun teknis penyelenggaraannya. Walau ada beberapa klub atau pemain yang memiliki kemampuan teknis yang lumayan, tapi secara rata-rata, menurut penilaian saya sebagai pengamat liga, maka liga kita baru bisa masuk nilai 5 dari 10. Permainan cenderung keras dan kasar, emosional, dan kadang brutal. Selain itu yang paling menonjol adalah skil yang masih kurang, apalagi visi bermain. Banyak pertandingan yang kalau kita perhatikan, tiap belum satu menit bola berhenti, entah itu out, pelanggaran, atau ada yang cedera. Jadi bisa dibayangkan, tiap satu menit berhenti, dan berhenti selama 1 menit, berarti rata-rata dalam pertandingan itu waktu permainan hanya 45 menit, atau kurang. Hanya separo dari waktu 90 menit yang seharusnya. Artinya bola lebih banyak berhenti daripada dimainkan. Karena itu, tidak heran apabila pemain kita kedodoran staminanya saat menghadapi pertandingan sesungguhnya. Dan mereka hanya perkasa ketika bertemu dengan tim dalam liga yang sama. Hal ini menurut saya yang menyebabkan kita tidak pernah berprestasi di kancah internasional. Sungguh hal yang memalukan, negara dengan populasi sepakbola yang begitu besar, tapi jangankan tingkat dunia, tingkat Asia bahkan Asia Tenggara saja kita tidak pernah juara (terakhir 1991). Betapa memalukannya situasi ini. Liga disebut juga sebagai universitasnya sepakbola, otomatis mutu timnas ditentukan dari liga itu sendiri. Karena itu malu harusnya kita kalau terlalu membangga-banggakan liga kita yg berlabel super dan kasta tertinggi tapi prestasi dan refleksinya di dunia internasional NOL BESAR, tidak sebanding dengan animo masyarakat, ekpektasi bahkan potensi kita sendiri. Ini persis seperti keadaan negara kita, yang kaya dengan sumber daya alam, tapi tetap saja masuk negara setengah miskin, dan terbelakang.

Saya rasa hal-hal seperti di atas itulah yang membuat saat ini, Menpora Imam Nahrowi, mengambil tindakan dengan “mengacak-acak” PSSI yang akhirnya berujung pada PSSI menghentikan segala kompetisi di bawah naungannya yang selama ini dikelola PSSI melalui PT. Liga. Apakah setelah ini Kemenpora menang dan menguasai PSSI, ternyata tidak semudah itu pula. Karena, seperti sudah diduga, PSSI, PT. Liga, dan klub-klub peserta liga, seperti sudah sekongkol, sehingga tidak bisa dan tidak mau tunduk pada putusan Kemenpora yang ingin membentuk tim transisi, guna mengakhiri apa yang dianggap sebagai ketidakbecusan dari PSSI dan pengurusnya. Dengan berbagai alasan yang sedikit tidak masuk hitungan masalah mendesak, Kemenpora memaksakan agar PSSI mau membuka diri sekaligus membongkar segala kekurangan-kekurangan yang selama ini sudah jadi rahasia umum. Masalah uang sponsor, pajak klub, tunggakan gaji pemain, match fixing, dan lain-lain yang sebenarnya sudah lagu usang coba didengungkan oleh Kemenpora. Dan dengan niat yang bagus itu, sebenarnya agak sulit membayangkan, bahwa ternyata hal inipun tidak mendapat sambutan positif dari PSSI dan klub-klub dibawahnya. Mereka seperti sudah nyaman dengan keadaan ini, sudah nyaman dengan PSSI yang orangnya itu-itu saja tanpa prestasi, nyaman dengan kompetisi yang mutunya pas-pasan, dan juga nyaman dengan timnas yang tidak punya prestasi bahkan juara tingkat Asia Tenggara, sejak puluhan tahun yang lalu.

Lalu, ada apa ini sebenarnya? Apakah mereka-mereka memang tidak mau maju? Apakah mereka itu brengsek semua? Kalau mendengar diskusi yang sering dilakkan oleh para petinggi PSSI dan Kemenpora yang saya amati, semuanya sama-sama keras dengan pasal-pasal dan pertimbangannya masing-masing, bahkan membawa-bawa unsur hukum bahkan agama segala macam,(Ketua PSSI di acara ILC 12 Mei 2015, bersumpah demi Allah bahwa tidak ada mafia pengaturan skor di kompetisinya), demi mencari pembenaran atas apa yang telah mereka ributkan ini. Untuk itu saya mencoba mencari titik tengah penilaiannya.

Menurut saya, tujuan Kemenpora sudah jelas, ingin menjatuhkan rejim PSSI ini dari orang-orang yang itu-itu saja. Kemenpora sepertinya ingin PSSI dapat dikontrol sepenuhnya oleh pemerintah, seperti jaman Pak Harto dulu. Artinya keterbukaan, transparansi, dan prestasi yang bisa dikontrol oleh pemerintah. Tapi dilain pihak, para petinggi PSSI sepertinya sudah menganggap   PSSI ini adalah punya nenek moyangnya sendiri, mereka seperti hidup dalam paguyuban mereka sendiri dan pemerintah tidak ada didalamnya sama sekali untuk bahan pertimbangan. Jadi PSSI dan Pt. Liga, seperti rombongan sirkus yang numpang mentas di kampung yang namanya Indonesia, hanya bermaksud menghibur, tanpa mau di intervensi sedikitpun oleh kepala kampung.

Mari kita pertajam analogi di atas. Semisal PSSI dan Pt. Liga serta klub-klub dibawahnya itu adalah sekumpulan sirkus yang melintas. Berarti, kita sebagai pemilik kampung, tentu tidak punya hak yang terlalu banyak mengatur bagaimana mereka menjalankan bisnis mereka, bukan? Terkecuali kita memiliki kepemilikan di sirkus tersebut, ataupun si pemilik sirkus memang mengijinkan kita untuk ikut mengaturnya, bukan? Paling kita hanya bisa meminta mereka untuk membayar pajak atas pendapatan yang mereka dapatkan. Apabila ada pemain sirkus yang tidak digaji, atau mendapat perlakuan kurang baik dari pemilik sirkus, apakah kita bisa menegur pemilik sirkus? Tentu saja bisa, tapi hanya sekedar teguran sebagai tetangga tentunya. Lalu bagaimana kita bisa mengatur supaya sirkus itu bisa berjalan dengan lebih baik? Saya rasa, hmm..tidak ada. Wong, sekarang saja penontonnya sudah banyak dan mereka make money, jadi boleh dibilang kita hanya bisa duduk manis dan mendengar genderang dan musik dari arena sirkus itu memekakkan telinga kita, itu saja.

Tapi tentu saja, saya kira PSSI di Indonesia bukanlah sekedar rombongan sirkus yang mampir di daerah kita, PSSI adalah salah satu icon satu-satunya di negara ini yang menaungi apa yang disebut sebagai sepakbola, yang merupakan olahraga paling populer di negara ini. Sepakbola adalah hiburan rakyat, sepakbola adalah mimpi kita untuk bisa setidaknya berjaya atas negara lain. Boleh dibilang, dengan sepakbola kita bisa “menjajah” negara lain, dan menjadikan kita terasa lebih superior. Jadi sepakbola adalah sesuatu yang serius dan harus diseriusi, karena dengan olahraga rasa nasionalisme bisa dipupuk dan membangkitkan kebanggaan yang sangat besar.

Kalau begitu, bukankah seharusnya PSSI dan Pemerintah harus menjadi mitra yang baik dan saling menguatkan karena memiliki kepentingan yang sama? Tentu saja. Tapi itu adalah idealnya, karena pada kenyataanya tidaklah demikian. Kenapa? Sudah jelas, karena tujuannya berbeda. Dalam sebuah negosiasi, amat perlu untuk menentukan tujuan. Apabila tujuannya sudah berbeda, maka berarti negosiasi tidak perlu, karena sudah pasti tidak akan ada kesepakatan.

Mengelola sepakbola adalah sesuatu yang sangat sulit dan sangat mahal. Hanya orang-orang yang sudah kebanyakan duit dan kebanyakan waktu saja yang akan mau mengelola olahraga ini. Olahragai ini bersifat massal, memerlukan setidaknya 25 orang untuk bertanding, 11 orang masing-masing tim dan 3 perangkat pertandingan. Repot bukan? Mengumpulkan orang-orang segitu banyak dengan minat yang sama dalam waktu yang sama bukanlah perkara mudah. Itulah makanya, sejak dulu, ada beberapa pengusaha yang memang mau membelanjakan uangnya untuk “kegilaan” ini. Main bola atau menonton bola memang mengasyikan, tapi mengelola klub sepakbola sangat melelahkan dan memakan biaya. Untuk itu, hanya orang-orang yang gila bola dan punya dana saja yang punya kesempatan seperti ini. Inilah yang menyebabkan sepakbola kompetisinya kadang sering terkendala, dan jujur kita harus akui, cikal bakal dari PSSI yang sekarang inilah yang telah berjuang habis-habisan untuk memajukan sepakbola kita sehingga bisa seperti sekarang ini. Kita masih ingat, beberapa puluh tahun yang lalu, perserikatan dan galatama adalah seperti dua dunia yang berbeda. Perserikatan yang merupakan klub sepakbola daerah amatir, mendapat perhatian penonton yang lebih fanatic, sedangkan galatama, yang merupakan klub professional tanpa embel-embel kedaerahan, dengan mutu yang lebih baik justru kurang mendapat perhatian masyarakat. Umumnya, karena perserikatan lebih membawa nama daerah ketimbang galatama. Hal ini lalu digabungkan oleh PSSI menjadi satu wadah liga dibawah kepemimpinan PSSI. Promosi dan penyelenggaraan kompetisi yang terus diperbaiki, menyebabkan kompetisi yang walau bagi sebagian orang dianggap kurang bermutu, akhirnya mampu merebut hati para penggemar sepakbola nasional. Puluhan ribu penonton berjubel tiap minggunya untuk dapat melihat tim-tim jagoan mereka berlaga, dan ternyata memang cukup menghibur. Jerih paya para cikal bakal PSSI pun sepertinya terbayar, lepas dari minimnya prestasi timnas, tapi kesuksesan penyelenggaraan liga adalah merupkan sesuatu pencapaian yang luar biasa. Nah, disinilah saya melihat, betapa PSSI seperti berjuang sendiri menghadapi masa-masa sulit itu, guna mencapai keadaan seperti sekarang ini, dimana kompetisi sudah sangat meriah dan melibatkan uang yang sangat besar. Karena itu, tidak mengherankan apabila sekarang para pengurus PSSI seperti merasa memiliki sepakbola Indonesia ini. Apakah mereka berhak merasa demikian? Entahlah, mungkin bisa juga, karena mereka selama ini telah berusaha sekuat tenaga untuk memajukan iklim kompetisi sepakbola nasional hingga seperti sekarang. Lalu apakah Kemenpora juga berhak mengatur sepakbola Indonesia? Tentu saja berhak bahkan wajib.Tapi apakah Kemenpora berhak mencampuri tatacara PSSI menjalankan kompetisinya? Nah, ini yang masih debatable.

Menurut saya, kompetisi memang perlu diperbaiki, dari segala aspek. Masalah transparansi keuangan, pendidikan dan kepelatiihan, baik pelatih, pemain, dan wasit, serta perangkat pertandingan lainnya. Hal ini guna mencegah banyaknya kasus pemain tidak dibayar, pemain yang mengalami cedera dan harus gantung sepatu, kesejahteraan pemain dan keluarga, dan lain sebagainya. Kalau melihat hal seperti ini, bukankah pada akhirnya kita melihat, bahwa sepakbola, dimanapun itu, tak lebih dari hanya sekedar hiburan semata. Dan tidak mungkin mereka bisa menghibur apabila para pelaku tersebut tidak bahagia, bukan? Jadi saya beranggapan bahwa, tolong pisahkan antara sepakbola prestasi dan sepakbola industri.

Liga adalah sepakbola industri, yang memerlukan penonton, sponsor, gimmick, dan lain-lain yang membuat kompetisi berputar dan dapur para pelaku kegiatan juga ngebul. Di lain sisi, sepakbola prestasi adalah sepakbola event antar negara seperti Sea Games, Asian Games, Piala Dunia, dan lain-lainnya yang membawa nama negara. Nah, bisa kita bandingkan mana yang lebih banyak berputar? Tentu saja yang industri, bukan? Dari sini maka kita bisa menarik kesimpulan bahwa sepakbola sebagai industri, tidak bisa dipungkiri merupakan sesuatu yang jauh lebih penting dan menyentuh perut orang banyak ketimbang sepakbola prestasi yang sifatnya turnamen, dan hanya pada waktu-waktu tertentu saja.

Untuk itu, sudah sewajarnya apabila kita member porsi perhatian yang lebih besar pada sepakbola industri ini. Kita harus merawatnya, dan menjaganya tetap bergelora sehingga penonton serta sponsor terus bergairah untuk menghidupkan kegiatan ini.

Apabila dilihat dari sisi ini, maka sikap yang diambil oleh Kemenpora, walaupun niatannya bagus, bisa saja menjadi bumerang yang membahayakan iklim sepakbola industri yang sudah cukup baik ini. Terlepas dari mutu dan penyelenggaraannya yang masih amburadul, tapi animo masyarakat yang tinggi harus juga menjadi faktor yang sangat sangat perlu diperhatikan. Seburuk apapun, kompetisi yang digelar oleh Pt. Liga ini telah mencapai beberapa raihan seperti antusiasme penonton, sponsor, dan geliat perekonomian yang turut menggeliat dibawahnya, seperti pedagang merchandise, hotel, penerbangan, hak siar televise, iklan produk, bahkan sampai pedagang asongan dan juru parkir, ikut kebagian rejeki dari gelaran ini. Ini tentu saja tidak boleh dinafikan begitu saja oleh Kemenpora dalam mengambil langkah pembinaan pada PSSI dan Pt. Liga sebagai penyelenggara kegiatan olahraga sepakbola.

Memang benar, sepakbola dan kompetisi kita banyak masalah, memang benar sepakbola kita sepertinya dikuasai oleh orang-orang yang itu-itu saja, yang lama tidak berprestasi, tapi itulah kenyataannya, dan sangat beresiko sekali apabila kita menebasnya secara mendadak seperti sekarang ini.

PSSI dan Pt. Liga serta klub-klub peserta dibawahnya sudah seperti keluarga besar, yang mungkin saja lebih mengedepankan sisi bisnis mereka ketimbang rasa nasionalisme. Ibaratnya mereka menjunjung nasionalisme perut yang menurut saya masih sah-sah saja mengingat toh negara belum bisa memberikan jalan keluar apalagi jaminan atas para pelaku olahraga ini.

Saya rasa, pemerintah dalam hal ini Kemenpora dan PSSI dengan Pt. Liga, serta klub-klub dibawahnya harus melakukan pembicaraan yang maha serius. Dan sebelumnya, sebaiknya disamakan dulu visi dan misinya. Tidak perlu merasa tabu kalau PSSI merasa pendaringannya terancam, katakan saja dengan jujur, tidak perlu berlindung di balik silat lidah undang-undang, karena semua juga tahu, setiap permasalahan pasti ujung-ujungnya ya masalah duit. Mungkin PSSI merasa mereka sedang menuai panen atas apa yang telah mereka perjuangkan selama ini dengan pengorbanan yang sangat besar sehingga mereka bisa menggelar kompetisi yang cukup berhasil meriah ini. Dari Kemenpora pun harusnya ada pembicaraan terbuka mengenai apa yang menjadi target dari kebijakan-kebijakan yang dilakukan ini. Apakah murni pembinaan, ataukah ada agenda lainnya, karena sekali lagi ini adalah masalah uang pada akhirnya. Mudah-mudahan penilaian saya itu keliru,dan saya berharap saya keliru, karena apabila tujuan keduanya adalah untuk memajukan persepakbolaan kita maka berarti jalan keluarnya pastilah lebih mudah. Tujuan yang sama akan member jalan keluar yang mudah bagi pihak yang istilahnya sedang bertikai ini.

Saya tidak tahu apa yang ada di benak mereka, tapi saya coba menggunakan pengamatan saya, yang mudah-mudahan adalah common sense yang ada di masyarakat pencinta bola lainnya di tanah air ini.

Menurut saya, PSSI, Pt. Liga, dan klub-klub peserta kompetisi, sudah enjoy dengan keadaan sekarang. Mereka tidak mau terlalu dibebani oleh masalah kekurangan teknis, kekurangan dan segi penyelenggaraan dan lain-lain. Menyelenggarakan kompetisi seperti yang telah saya uraikan di atas, adalah sulit bin mahal. Sudah sewajarnya PSSi menganggap mereka perlu me-manage keuangan mereka secara eklusif, agar setidaknya mendapatkan keuntungan, dan tentu saja tindakan yang dilakukan Kemenpora adalah sangat mengganggu bisnis mereka.

Sedangkan dari Kemenpora, pendapat saya, mereka ingin mengakhiri kepengurusan PSSI yang dianggap tidak becus, tidak transparan, dan tertutup. Kemenpora mendengar keluhan dari masyarakat betapa sepakbola kita berada di titik nadir prestasi, kompetisi carut marut, banyak tunggakan gaji pemain, isu mafia pengaturan skor, dan lain-lain. Tapi, apakah mungkin kita membubarkan suatu rombongan sirkus ini, karena mereka adalah semua keluarga. Mereka mencari makan dan nafkah dari kompetisi ini. Sangat tidak mungkin rasanya memaksakan idelogi nasionalisme pada kondisi seperti ini. Dan menurut saya sangat berbahaya bagi kelangsungan kompetisi ini.

Seyogyanya, sekali lagi, PSSI dan Kemenpora sebagai tangan pemerintah mencari jalan keluar yang solutif syukur-syukur permanen, agar kompetisi bisa dibenahi, kesejahteraan pemain bisa terjamin, dan pada muaranya prestasi timnas bisa dicapai. Saya merasa, persoalan ini sebenarnya sangat sederhana kalau saja bangsa kita mempunyai rasa malu. Betapa banyak contoh-contoh di negara kita, bagaimana seseorang yang gagal, tapi tidak mau mundur dari jabatannya dengan berbagai alasan yang penuh muslihat dan kemunafikan. Mungkin untuk mereformasi PSSI ini, gampang saja, beri target juara minimal AFC, dan apabila gagal maka harus dilakukan pemilihan Ketua Umum baru. Tapi kembali lagi, PSSI, Pt. Liga, serta klub-klub dibawahnya sudah seperti kartel, mafia, atau bisa juga keluarga bahagia, yang cukup puas dengan sirkus mereka ini, sehingga untuk mengganti pengurus PSSI yang gagal pun bukan hal yang mudah. Tanpa ada rasa malu dari pengurus yang gagal untuk mengudurkan diri proses reformasi tentu saja akan sangat sulit karena lagi-lagi uang yang berbicara.

Ini Indonesia, Bung…!, prestasi boleh saja nomer sekian, yang penting berapa banyak duit di kantong Anda.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s