FOTO KELILING BERGAYA PREMAN

Foto from other website

Foto from other website

Pernahkah Anda menghadiri suatu acara seperti perpisahan, wisuda, atau reuni di suatu tempat atau gedung, lalu banyak tukang-tukang foto keliling yang mengabadikan Anda. Sejenak Anda pasti merasa tersanjung, dan merasa seperti artis atau selebritis. Tapi sayangnya Anda harus kecewa, karena di akhir acara, tukang-tukang foto tersebut akan mengejar Anda dan setengah memaksa meminta Anda untuk menebus foto yang telah mereka buat tersebut. Menjengkelkan sekali bukan. Perasaan berbunga yang sempat Anda rasakan jadi buyar seketika itu juga. Apalagi apabila harga yang diminta tidak masuk akal dan tidak masuk kantong, seperti Rp. 50.000,- per foto, sementara mereka menyodorkan 10 lembar foto. Pasti perasaan Anda langsung kecewa, kesal, dan merasa seperti korban pemerasan.

Yah, memang demikian kenyataan yang terjadi. Saat ini banyak sekali tukang foto-tukang foto “liar” yang bukan menawarkan jasanya tapi memaksakan jasanya pada kita. Kita sudah seperti kerbau yang dicucuk hidungnya dan harus menuruti kemauan mereka. Padahal kita tidak pernah meminta mereka foto kita, tidak pernah diberitahu berapa harganya, mereka sudah seperti segerombolan serigala yang menemukan mangsanya, sungguh cara mencari nafkah yang tidak terpuji.

Entah apa mereka bisa menyebut ini rejeki mereka? Bagaimana mereka beramal dan menafkahi keluarga dari cara seperti ini. Kadang saya malah berpikir, apakah ini sudah termasuk tindakan melawan hukum dan pemerasan? Mungkin pemerasan tidak, tapi pemerasan secara halus, tentu saja.

Betapa tidak mengenakannya perasaan kita apabila foto-foto tersebut tidak diambil? Kemana foto-foto kita itu akan berakhir? Di tempat sampah? Di lapak-lapak kertas bekas? Atau tempat lain yang bahkan kita tidak mau tahu dimana.

Saya harap, pihak berwenang bisa menertibkan masalah ini, dan kepada para tukang foto yang terhormat, mohon, bekerjalah dengan sedikit hati nurani. Tawarkanlah jasa Anda terlebih dahulu, jangan asal jepret dan asal tagih orang saja. Bagaimana kalau orang tersebut tidak punya uang, apakah Anda ingin membuat mereka malu di depan umum, di depan keluarga mereka yang tengah mengadakan acara. Ini bukan cara mencari nafkah yang baik, kalian selain mendapatkan uang, tapi banyak dari mereka mengumpat dalam hati. Maukah kalian hidup seperti ini? Hidup dari umpatan orang lain?

Astagfurullah aladzim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s